Kamis, 05 Maret 2015

Anak yang susah di tebak

Anak yang susah di tebak. Anak yang pintar, rajin, cekatan, itulah kesan pertama di mataku. Ternyata penilaian itu gak salah, bahkan bukan aku saja yang menilai dia begitu. Cerita mengenai keadaan rumahnya membuat semakin percaya kalau anak ini bisa diandalkan. Anak ini berasal dari keluarga yang bisa dibilang dr keluarga ekonomi menengah kebawah, keaadaan ibunya yg harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan berjualan kue keliling. Awalnya gak percaya kl ibu-ibu yang jual kue itu adalah ibu si anak itu, karena dari rampang si anak itu gak mirip ibu - ibu penjual kue..anak itu bersih, berpakaian rapi, terlihat sopan sedangkan ibu-ibu kue itu maaf ya..terlihat lusuh. Tapi anak itu gak malu membantu ibunya berjualan di depan sekolah. Sungguh jarang sekali anak-anak sekarang yang masih mau bantu ibunya jualan kue di depan sekolahnya. Hari demi hari mulai mengenal anak ini lebih dekat lagi, mulai tau cerita tentang kehidupan keluarganya, ayahnya yang mempunyai istri lagi meski tidak pernah memberi nafkah untuk keluarganya, kakaknya yang semakin hari makin bandel. Dia sering ngeluh tidak pernah betah kalau dirumah. Kehidupan seberat ini harus dia alami, dia harus membantu ibunya menjaga adiknya yg masih kecil, kadang membantu menggoreng kue-kue yang mau di jual, dia masih harus mendengarkan keluh kesah ibunya. Oh.sungguh beruntungnya diriku, diusiaku segitu masih bisa menikmati hangatnya keluarga. Semakin mengenal anak itu bukan semakin percaya tapi semakin tidak yakin dengan sikap baiknya dia. Awalnya dari kasus pertama, anak ini mulai pacaran dengan adek kelas. Awalnya aku pikir biasa aja, karena anak seusianya memang masa-masa menyukai lawan jenis tp ternyata dia hanya memanfaatkan keadaan karena dia tau sigadis ini suka sama dia. Huh...anak ini sudah memanfaatkan kepandainya untuk hal2 yang gak baik. Kemudian muncul kasus kedua, anak ini mulai terlihat kelicikannya ( sudah bukan pandai lagi) dia benar 2 bisa memanfaatkan keadaan untuk kepenting
pribadinya. Dia memanfaatkan kesalahan guru untuk menutupi kesalahannya, dia memanfaatkan kepercayaan guru untuk kesalahannya Dua hal yang sangat jauh berbeda "kesalahan dan kepercayaan" dimanfaatkan olehnya secara bersamaan.
Sungguh luar biasa anak ini..
Kenapa dengan anak ini??
Apakah di sekolah maasih kurang untuk sering mengingatkan dan memperhatikan dia ? Tapi seperti nggak, gak kurang - kurang mengingatkan dan memperhatikan dia.
Apakah dari faktor keluaga? Keluarga yang gak hangat menurutnya, keluarga yang membuat dia merasa tidak nyaman. Dua kondisi yang lingkungan yg sangat bertolak belakang.
Sayang sekali jika dia harus terjebak dalam keadaan yang membuat dia tidak mampu menggunakan kepandaiannya untuk hal hal yang positif.
Saat ini dia sudah mulai mampu mengendalikan diri dan mudah2an ini benar - benar dia yang sebenarnya.

Keluarga adalah tempat paling utama untuk menimba ilmu... Jangan sia sia kan waktu saat bersama anak 2 di rumah, kenyamanan mereka saat bersama keluarga sangat berpengaruh dengan kepribadian mereka.
Kekompakan bukan hanya di dalam keluarga saja tapi dengan linglungan- lingkungan dimana anak - anak menimba ilmu.

Senin, 23 Februari 2015

 My Story ( Cerita awal di Jingga )
Setelah 3 tahun dirumah dan anak – anak sudah mulai besar, suamiku mengijinkan untuk bekerja kembali.
Awalnya aku cari pekerjaan yang tidak menyita waktu terlalu lama, bisa disambi untuk mengasuh anak. Pilihanku menjadi staf di sekolahan, sekolah apa saja dan jadi apa saja dengan pertimbangan aku sudah terbiasa berhubungan dengan orang, tidak berbeda jauh dengan lembaga sekolahan. Beberapa lamaran pekerjaan aku pos kesekolah – sekolah, tidak ada yang merespon mungkin karena pengalam pekerjaanku yang bukan dari lembaga pendidikan.
Hingga suatu hari adik sepupuku membroadcast lowongan di sekolah alam jingga.
Wah…alamatnya gak jauh dari rumah nich…pikirku waktu itu, sekolah alam ? ini sekolah yang selama ini aku hanya melihat di tv-tv, dan ada keinginan untuk menyekolahkan anakku ke sekolah alam, meskipun aku belum tau betul apa itu sekolah alam. Setahuku sekolah alam itu tempat anak-anak sekolah tapi anak-anak itu tidak terlihat tertekan. Mereka terlihat sangat senang. Aku hanya ingin anakku juga seperti itu.
Mulai saya minta ijin suami untuk melamar kerja disana, dan Alhamdulillah diijinkan.
Aku email lamaran,saat itu aku yakin dipanggil karena  profil yang tercantum di web sekolah alam jingga adalah Bapak Ari Maryadi. Dimana Beliau ada pembisnis, dengan latar belakangku dari marketing mungkin menjadi daya tarik sendiri untuk Beliau. Ternyata perkiraanku tidak salah,  tidak berselang lama dapat respon untuk ikut test masuk.
Pada waktu pertama mencari sekolah, kaget juga..kok lokasi sekolahnya nyempil begini sih.. tapi begitu lihat sekolahannya meskipun sederhana tidak ada perasaan negative, di benakku hanya sekolahan nya unik, tidak seperti sekolah pada umumnya.
Peserta test lumayan banyak kurang lebih ada 20 orang, saya mengikuti rangkaian test dengan perasaan senang, mencoba menekan perasaan grogi karena ini merupakan salah satu kelemahanku yaitu grogi saat mengikuti test atau ujian.
Kembali lagi ke test masuk, saat test tertulis selesai aku mulai melihat-lihat dan bertanya – Tanya tentang sekolah. Maksudku sih untuk anakku yang kecil. Aku bertanya tetang kurikulum, ijah anak, dll. Pertanyaan – pertanyaan pada umumnya orang tua mencari sekolah.
Pada hari itu test tertulis sudah terlewati, kemuadian beberapa hari kemudian dapat panggilan untuk wawancara. Saat menunggu wawancara mulai berkenalan dengan peserta yang lain, satu persatu mereka di panggil, trus saat keluar ruangan mereka mulai membicarakan apa yang di Tanya tadi di dalam. Yang memuatku heran diantara mereka tidak ada yang di beri waktu untuk bertanya, dan tidak ada pembicaraan mengenai gaji.
Tiba saatnya aku di panggil untuk wawancara, di dalam ada 2 orang guru dan 1 orang psikolog. Dan ternyata memang benar, aku tidak di beri waktu untuk bertanya dan tidak ada pembicaraan mengenai gaji. Karena rasa penasaranku, aku mulai minta waktu bertanya, “ Bolehkah saya bertanya ?” dan dipersilahkan. Pertanyaanku “ Bagaimana system penggajian disini, apakah UMR, atau hitungan jam, atau bagaimana?” Aku mendapatkan jawaban dengan pertanyaan kembali “ Apakah ibu percaya kalau ada lembaga pendidikan, para pengajarnya lulusan dari IPB, UI hanya mendapatkan Rp ...rb / bulan ?” dengan kaget aku bilang “nggak percaya”, kemudian dijawab lagi “ itulah disini, menurut ibu apa yang mereka cari ? “ aku jawab “ mungkin ilmu “, aku hanya sekenanya waktu itu saat menjawab. Dan di jawab kembali “ itu salah satunya”.
Mulai banyak pertanyaan di benakku, “ memang segitu “. Keluar dari ruangan mulai peserta lain bertanya – Tanya, aku cerita “ gajinya ... rb lho”. Ada yang bilang “ ah, gak apa-apa”. Waktu wawancara selesai.
Perasaan dan pertanyaan mulai berkecamuk. “Apa memang segitu ?”. Aku mulai bertanya –tanya ke teman-temanku yang menjadi guru, kebanyakan mereka bilang” itu memang kecil tapi mungkin karena sekolahannya masih baru “. Kakak iparku bilang “ Sama gaji pembantuku kok gedean pembatuku, jadi gurukan tanggung jawabnya besar? Sedangkan pembantu gak sebesar itu “. Tapi ibu dan ibu mertuaku bilang “ Gak apa – apa, yang penting kamu punya kegiatan dari pada dirumah aja.”
Dan ternyata aku diterima. Aku tidak mau mengambil keputusan yang nantinya membuat menyesal. Aku harus punya niat kuat kalau mau menerima pekerjaan itu. Dari jawaban – jawaban orang – orang itu mulai aku rangkum, mulai aku merenung apa yang aku cari, “ apakah uang atau apa ? “ pada akhirnya aku punya tujuan, “ Aku hanya ingin anakku sekolah disini”. Dari keinginan yang sederhana itu aku menerima pekerjaan di sekolah alam jingga.
Inilah awa aku di sekolah alam jingga. Dari 20 peserta test yang masuk 7 orang yang mengikuti pelatihan. Awal masuk mulai dari perkenalan, pembetukan struktur organisasi, peraturan dll. Aku ditunjuk menjadi leader, itu pertama kalinya aku menjadi leader. Biasanya aku hanya sebagai bayangannya saja, gak pernah di paling depan. Itu merupakan pembelajaran awal untkku. Banyak materi – materi yang tadinya aku gak tau apa- apa membuat mataku melihat ternyata banyak hal yang aku belum tahu . Ada satu kalimat dari  Pak Ari  yang masing sering terngiang – ngiang di benakku hingga kini “ Jika sudah berani memulai sesuatu maka selesaikanlah “ .
Kembali lagi ke cerita pelatihan, saat pelatihan kita diberi tantangan menangani 3 event, yang pertama open house jingga, jingga camp dan opan house sarang lebah. Satu bulan berlalu, yang terjadi kita hanya diberi uang pengganti transport. Peserta pelatihan mulai gelisah, mulai bertanya-tanya. Saat itu pun aku mempunyai pertanyaan yang sama, tapi saat aku renungkan apa yang sudah yayasan kaasih untuk kita tak sebanding dengan apa yg sudah kita berikan. Kita belum member apa-apa, sedangkan pelatihan tersebut memberi kita banyak ilmu. Pengganti transport tersebut lebih dari cukup.
2 bulan berlalu dengan pelatihan, saatnya kami memulai magang. Aku ditempatkan di sekolah menengah, langsung menjadi wali kelas kelas 9. Pada saat itu mereka mulai drill untuk UN, tantangan baru untukku. Bertahun-tahun tidak pernah belajar, langsung pegang kelas 9 untuk drill UN? Apa yang harus aku lakukan ? Awal mula dengan cara mengenal mereka, mengajak mereka berbicara tentang cita – cita mereka. Hanya ada 9 orang murid tapi mempunya karakter yang berbeda – beda. Aku hanya 3 bulan bersama mereka. Saat mereka lulus dan hasilnya pas-pas an, ada perasaan bersalah menyelimuti hatiku. Aku sering bertanya – tanya sendiri “ Apakah aku yang salah dengan hasil mereka seperti itu ?” “ Apakah aku kurang maximal memberi pembelajaran untuk mereka ?” dan masih banyak pertanyaan – pertanyaan seperti itu. Dan entahlah sampai sekarang aku belum menemukan jawaban yang pas.
Singkat cerita, banyak pembelajaran yang aku dapatkan di sekolah alam jingga. Di sekolah ini bukan hanya murid atau anak – anak yang belajar.

Di sekolah ini semua penghuninya belajar, tidak perduli tempathnya dimana, siapa yang menjadi gurunya. Karena anak-anak pun bisa menjadi gurunya.
Mulai terjawab pertanyaan di awal wawancara, “ itulah disini, menurut ibu apa yang mereka cari ? “ saat itu aku hanya menjawab sekenanya “ Mungkin ilmu “. Dan ternyata itu benar. Ternya sebenarnya motivasi ku bergabung karena aku selalu ingin belajar tentang apapun. Bukan hanya sekedar ingin menyekolahkan anak saja. Tapi karena di sekolah ini punya banyak ilmu yang harus di pelajari setiap saat.

Banyak sekali ilmu yang aku pelajari disini, dan bukan hanya itu kenyamanan, keberkahan mulai aku rasakan.
" Kalau sudah memulai, kerjakanlah sebaik - baiknya hingga selesai "
Ketika kejenuhan itu muncul kalimat itulah yang menguatkanku.



Selasa, 17 Juni 2014

RESUME FILM A MAN WHO WAS SUPERMAN

Film yang mencerikan seseorang yang mengalami keadaan yang berbeda dengan orang lain.


Kondisi fisik yang lemah dan terkena penyakit ayan / syaraf disebabkan terkenanya tembakan di kepala, dan pelurunya masih bersarang di kepalanya hingga dewasa. Kata - kata dari Ayahnya agar dia menjadi orang yang kuat dan baik seperti superman lah yang membuat dia mampu bertahan dan juga mengenai cerita ikan paus yang mampu hidup selama 130 th dengan tombak yang menancap.

Kondisi psikis yang disebabkan oleh trauma masa kecil yang kehilangan ayahnya, dan bertambah lagi  setelah di berumah tangga dia harus kehilangan anak dan istrinya.
Trauma kehilangan dan pada saat itu dia tidak bisa menolong, serta orang disekitarnya pun tidak ada yang mau menolonglah membuat di berfikir dan menciptakan dunianya sendiri untuk menjadi superman yaitu seseorang yang siap menolong siapa saja dan kapan saja.

Keadaan seperti itulah yang membuat dia berbeda dengan yang lain, keadaan yang orang lain menggap itu aneh.

Banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan, hidup itu harus selalu menatap masa depan dengan kondisi apapun itu. Kita sebagai pengajar di sekolah alam jingga harus mampu menciptakan kondisi yang bisa memfasilitasi untuk anak yang berkebutuhan khusus, agar anak itu tidak perlu menciptakan dunianya sendiri.





Rabu, 28 Mei 2014

Bagian 1
MEMBUAT KEBUN

 



Awal mula dari kebiasaan saya dari kecil melihat kebun yang ada di rumah, membuat saya ingin mempunyai kebun sendiri saat dewasa. Dan saya sangat bersyukur sekali pada saat Allah memberikan jalan kepada saya untuk bergabung di Sekolah Alam Jingga. Banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan salah satunya cara berkebun dengan berbagai media, yaitu menggunakan media air dan tanah.
Saat ini saya sedang mencoba untuk berkebun dimulai dari benih dan tanaman "regrow".

1. Benih Ketimun dan Benih Terong  

Benih ketimun dan benih terong kita semai. Saya mulai menyemai hari kamis tgl 22 Mei 2014, tanah harus basah, kemudian kita tutup agar lembab.
2. Setiap hari benih kita jemur dari jam 07.00 sampai jam 10.00 kemudian kita simpan kembali
3. Hari sabtu benih ketimun sudah mulai muncul kecambah
4. Hari minggu benih terong mulai muncul kecambah kecil
5. Hari senin
Jika benih sudah mulai ber daun empat, kita pindah benih tersebut ke lahan kebun yang sudah kita siapkan. ( Bersambung )

Saya mencaba " Regrow " sisa sayur.

1. Daun seledri kita potong pangkalnya ( yang masih ada akarnya ), saya mulai dari hari kamis tgl 22 Mei 2014
2. Pangkal daun seledri di rendam dalam air
3. Minimal setiap 2 hari sekali kita harus mengganti airnya agar nutrisinya terus ada.
4. Hari senin tunas baru mulai muncul
5. Jika tunas sudah mulai membesar kita akan pindah ke media yang kita siapkan.
( Bersambung )




Minggu, 25 Mei 2014

BELAJAR BERSAMA ALAM








  1.      . Bermain bersama antara guru dan yayasan SekolahAlam Jingga.
Orang dewasapun bisa merasakan kebahagian saat bermain. Permainan itu bukan hanya dunia untuk anak – anak, ada kalanya orang dewasapun harus menyempatkan diri untuk bermain, entah itu dengan keluarga atau dengan teman.
Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari sebuah permainan, misalnya seperti gambar diatas mereka berman gobak sodor, dalam permainan itu kitaa butuh adanya kerjasama dalam team, ketangkasan, kecepatan, dan lain – lain. Atau mungkin dengan permainan cuma untuk melepas kepenatan dengan rutinitas yang sangat padat.
Manfaat dari permainan inilah yang harus kita ajarkan untuk anak-anak kita. Dengan kita merasakan sendiri manfaat permainan maka akan dengan mudah kita mengajarkan dan menjelaskan mengenai manfaat atau tujuan permainan tersebut.





2.       Kebahagian dan keceriaan pada wajah anak-anak ini. Tanpa alas kaki, hanya ada tenda dan dilapangan tanpa semen. Kebahagiaan anak-anak itu bukan dari fasilitas yang kita sediakan, tapi kenyamanan yang kita berikan.
Betapa terlihat sangat bahagia dan nyamannya anak-anak itu dengan kondisi yang sangat sederhana. Dengan kesederhanaan kita mendidik akhlak dan kepribadian anak-anak, agar mereka tidak menjadi anak yang sombong, boros, tidak bisa bersyukur, dan lain-lain.




3.       Bermain dan bahagia.
Permainan yang sederhana dan membahagiakan..
Sebagai pendidik, kita harus selalu berfikir untuk memberikan permainan yang sederhana, mendidik dan membuat anak bahagia.
Seperti contoh permainan diatas, permainan mencari koin di dalam tepung, permainan yang hanya membutuhkan tepung dan koin, meskipun begitu anak-anak itu terlihat sangat bahagia.




4.       Anak ABK yang tertidur pulas, dan terlihat sangat nyaman.
Dengan membuat lingkungan yang nyaman dan banyak kasih sayang didalamnya akan membuat anak-anak bahagia saat bermain dan belajar, karena semua perasaan pada waktu kecil akan selalu membekas di pikiran dan hati mereka hingga desawa.



5.       Bahkan si burung pipit yang sedang sakitpun merasa nyaman di lingkungan sekolah alam jingga. Kita harus membuat lingkungan yang dapat memberikan kenyaman untuk semua mahluk hidup, bukan hanya anak-anak dan para guru melainkan hewan – hewan yang berkeliaran akan merasa nyaman di lingkungan sekolah yang asri.
Kita mengajarkan bagaimana mencintai dan menyayangi tumbuhan dan hewan, kita ajarkan anak-anak untuk merawat tanaman di lingkungan sekolah, menjaga  dan memelihara kebersihan lingkungan sekolah.


   

6.       Sekolah AlamJingga bukan hanya sekedar sekolah tapi juga sebuah komunitas sedang membangun peradaban. Seperti gambar diatas terlihat anak-anak sedang panen ikan lele di kolam, orang tua murid yang ikut panen sayur hasil dari hydroponik, dan guru yang juga ikut menikmati hasil panen.
Kebersamaan inilah yang sedang kita ciptakan di sekolah alam jingga, semua bisa merasakan kebahagiaan.



7.       Saat kita mau belajar mengenai penyerbukanpun kita tidak perlu mencari jauh-jauh, karena kita bisa melihat langsung di halaman sekolah. Gambar diatas adalah penyerbukan bunga manga yang di bantu oleh lalat.




8.       Proyek hydroponic yang sedang di kembangakan di sekolah alam jingga sangat bermanfaat sekali untuk menambah ilmu pengetahuan tentang cara tanam menggunakan media air, selain itu hasil proyek hydroponic  ini juga bisa bernilai jual tinggi, sehingga kita juga mengajarkan anak untuk mengenal bisnis.




9.       Tanaman Regrow. Kita juga sedang mengembangkan dan mengajarkan untuk menanam kembali sisa sayuran yang kita masak. Ada beberapa jenis sayuran yang bisa regrow antara lain sawi putih, sawi hijau, seledri, daun bawang, kangkung, dll.
Misalnya sawi putih, sawi putih yang kita pakai jangan sampai pangkal jadi caranya di potong dulu pangkalnya. Pangkal sawi putih kita rendam dalam air, sampai numbuh kuncup yang baru kemudian kita pindah ke media tanah atau air nutrisi.
Rawat hingga kita bisa memanennya.






 
Inilah hasil kebun yang dikembangkan di sekolah alam jingga. Berbagai macam tanaman, dari tanaman apotik hidup hingga sayuran. Semua hasil kebun ini bisa kita nikmati bersama, tidak terkecuali untuk orang tua murid yang merukan salah dari komunitas sekolah alam jingga.